STKIP Babunnajah Perkuat Implementasi OBE: RPS Tak Lagi Sekadar Dokumen Administratif

Admin STKIP | 2026-09-15 | 20:29:01 | 111 kali dilihat
STKIP Babunnajah Perkuat Implementasi OBE: RPS Tak Lagi Sekadar Dokumen Administratif

Pandeglang, 15 September 2026 — Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) tidak lagi cukup hanya dengan memastikan seluruh kolom terisi. RPS harus menjadi sebuah sistem pembelajaran yang mampu mengarahkan mahasiswa menuju kompetensi yang benar-benar dapat diukur. Semangat inilah yang menjadi salah satu fokus utama Workshop Penyusunan RPS Berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang digelar STKIP Babunnajah Pandeglang, Selasa (15/9/2026).

Bertempat di Aula Bersama STKIP Babunnajah Pandeglang Lantai 2, kegiatan menghadirkan Prof. Dr. Cecep Anwar Hadi Firdos Santosa, M.Si. sebagai pemateri. Workshop diarahkan untuk memperkuat kemampuan dosen dalam merancang RPS berbasis OBE, mulai dari merumuskan capaian pembelajaran hingga memastikan pengalaman belajar dan asesmen benar-benar selaras dengan kompetensi yang hendak dicapai mahasiswa.

Mengubah Cara Pandang terhadap RPS

Dalam pemaparannya, Prof. Cecep mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap RPS. Menurut materi workshop, RPS berbasis OBE tidak semestinya berhenti sebagai dokumen administratif untuk memenuhi kelengkapan penjaminan mutu, tetapi harus menjadi desain pembelajaran yang menghubungkan capaian, pengalaman belajar, dan asesmen secara sistematis.

Salah satu pesan utama yang ditekankan dalam materi adalah pergeseran orientasi dari “apa yang akan diajarkan dosen” menjadi “apa yang harus mampu dilakukan mahasiswa.”

Dalam kerangka OBE, perencanaan pembelajaran dimulai dengan menentukan kemampuan yang harus dicapai mahasiswa, kemudian merancang pengalaman belajar yang memungkinkan kemampuan tersebut berkembang, dan selanjutnya menentukan bukti ketercapaian melalui asesmen yang tepat.

“Complete ? Aligned.”

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam materi workshop. Artinya, RPS yang lengkap secara administratif belum tentu memiliki keterpaduan yang baik secara substantif.

Dari Outcome Menuju Pengalaman Belajar

Prof. Cecep juga memperkenalkan prinsip Constructive Alignment sebagai salah satu fondasi penting dalam perancangan pembelajaran berbasis OBE. Terdapat tiga komponen yang harus saling terhubung, yaitu Intended Outcomes, Learning Experience, dan Assessment Evidence.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menerima materi, tetapi memperoleh pengalaman belajar yang secara langsung membantu mereka membangun kompetensi yang ditargetkan.

Materi workshop menegaskan:

“Outcome without experience is merely an INTENTION.”

Selain itu, aktivitas pembelajaran juga tidak otomatis menjadi bukti penilaian. Bukti harus menunjukkan kemampuan nyata mahasiswa yang relevan dengan outcome yang telah ditetapkan.

Asesmen Harus Mengikuti Outcome

Pembahasan kemudian berlanjut pada perancangan sistem asesmen. Peserta diarahkan untuk tidak memulai dari pertanyaan, “Mau menggunakan kuis, UTS, UAS, atau tugas apa?” Sebaliknya, dosen terlebih dahulu harus menentukan kemampuan apa yang harus dicapai mahasiswa dan bukti apa yang perlu ditunjukkan untuk membuktikan ketercapaian kemampuan tersebut.

Prinsip tersebut dirumuskan secara tegas dalam materi:

“ASSESSMENT FOLLOWS THE OUTCOME — BUKAN SEBALIKNYA!”

Melalui pendekatan tersebut, bentuk asesmen dipilih berdasarkan karakteristik kompetensi yang hendak diukur. Untuk kemampuan menganalisis, misalnya, asesmen perlu menghasilkan bukti analisis; sementara kemampuan mencipta atau memodelkan dapat dibuktikan melalui produk atau proyek.

Dosen Tidak Hanya Menyusun RPS, tetapi Membangun Sistem Pembelajaran

Workshop juga memberikan ruang praktik kepada peserta. Dosen diarahkan menyusun satu rangkaian sistem asesmen yang terintegrasi, mulai dari Sub-CPMK, indikator kinerja, assessment evidence, assessment task, kriteria, rubrik, hingga bobot penilaian.

Dalam materi sesi praktik, Prof. Cecep menekankan bahwa seluruh komponen tersebut harus dapat ditelusuri kembali kepada outcome.

“EVERYTHING SHOULD POINT BACK TO THE OUTCOME!”

Pendekatan ini sekaligus mendorong dosen untuk merancang indikator yang observable dan measurable, menyusun bukti belajar yang autentik, memilih bentuk asesmen yang tepat, serta membuat rubrik yang mampu memberikan standar penilaian secara jelas dan objektif.

Menuju Pembelajaran yang Lebih Terukur

Melalui workshop ini, STKIP Babunnajah Pandeglang mendorong agar implementasi OBE tidak berhenti pada perubahan format dokumen RPS. Lebih jauh, OBE diharapkan menjadi bagian dari perubahan budaya akademik dalam merancang pembelajaran yang berorientasi pada capaian dan kompetensi mahasiswa.

Pada akhir sesi, peserta diarahkan untuk melakukan audit terhadap RPS masing-masing dengan memastikan adanya kesinambungan antara CPL ? CPMK ? Sub-CPMK ? Learning Experience ? Assessment ? Rubric ? Weight.

Dengan demikian, RPS diharapkan bukan sekadar menjadi dokumen yang lengkap, tetapi menjadi dokumen yang selaras (aligned) dan mampu memberikan arah yang jelas terhadap proses pembelajaran serta pencapaian kompetensi mahasiswa.

Workshop ini menjadi bagian dari upaya STKIP Babunnajah Pandeglang dalam memperkuat kualitas perencanaan pembelajaran dan mendorong penerapan pembelajaran yang semakin berorientasi pada capaian, pengalaman belajar yang autentik, serta asesmen yang valid dan terukur.

Sign In News Alamat Profile